| Koleksi di Pameran Mawikara. Foto : Joshephine Maretta |
Yogyakarta, Inspirasi.com―Mawi berarti ‘ganti rupa’ dan Wikara berarti ‘owah’ yang memiliki persamaan makna, yaitu ‘berubah’ dalam bahasa Jawa. Pameran Mawikara ingin menyajikan perubahan kota Yogyakarta dengan menampilkan koleksi dari berbagai museum.
Benda-benda dari museum dipamerkan di Phytagoras Hall, Taman Pintar Yogyakarta pada tanggal 23 November hingga 25 November 2021 pukul 09:00-16:00 WIB. Pameran Mawikara ini diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta.
Fitria Dyah Anggraeni atau yang akrab disapa dengan Anggi, yang merupakan Kepala Seksi Sejarah dan Permuseuman Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta mengatakan bahwa Dinas Kebudayaan ini bekerja sama dengan 18 Museum yang ada di Yogyakarta.
| 18 Museum yang Terlibat. Foto : Joshephine Maretta |
“Kami juga bekerja sama dengan Komunitas Malam Museum sebagai edukator atau pemandu pameran dan terdapat pihak lain yang berkontribusi bagi pameran ini,” ujar Fitria Dyah Anggraeni atau yang akrab disapa Anggi, sebagai Kepala Seksi Sejarah dan Permuseuman Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, Rabu (24/11/2021).
Beberapa museum yang terlibat dalam pameran, diantaranya adalah Museum Sonobudoyo, Museum Sandi, Museum Perjuangan, Museum Monumen Pangeran Diponegoro, Museum Keraton, Museum Biologi UGM, Museum Benteng Vredeburg, Museum Bahari, Museum Taman Siswa, Museum Dr. Yap Prawirohusodo, Museum Bank Indonesia, Taman Pintar, Museum TNI AD Dharma Wiratama, Museum Pendidikan Indonesia, Museum KRKB Gembira Loka, Museum Puro Pakualaman, Perpustakaan Vidya Yudha Casana, dan Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia.
Anggi mengatakan bahwa tujuan diadakannya Pameran Mawikara ini berawal dari adanya keinginan Dinas Kebudayaan Yogyakarta mengajak semua masyarakat Jogja, sekaligus para wisatawan untuk dapat memahami budaya Yogyakarta yang ada pada abad ke-20 hingga sekarang.
“Membantu mempromosikan dan mengangkat keunikan baru dari museum-museum di kota Yogyakarta melalui narasi. Kami bersama berusaha menarasikan koleksi-koleksi museum dalam sebuah jalinan cerita,” ujar Fitria Dyah Anggraeni atau yang akrab disapa Anggi, sebagai Kepala Seksi Sejarah dan Permuseuman Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, Rabu (24/11/2021).
Upaya Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta ini juga didukung oleh keinginan untuk melestarikan budaya dengan mengutamakan penyampaian cerita dengan storytelling. Teknik ini mulai dikembangan di banyak sektor pariwisata.
“Dengan adanya pameran ini, koleksi museum tidak hanya hadir sebagai “pajangan”, namun juga memiliki kisah historis yang kuat dan menarik. Harapannya masyarakat tidak hanya sekali berkunjung, namun bisa re-visit ke museum setelah mendapat pengalaman menarik,” ujar Fitria Dyah Anggraeni atau yang akrab disapa Anggi, sebagai Kepala Seksi Sejarah dan Permuseuman Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, Rabu (24/11/2021).
Pameran Mawikara mengangkat tema ‘Yogyakarta dan Perubahan’ pada abad ke-20 menceritakan tentang kota Yogyakarta yang menjadi kota niaga. Ini diperkuat dengan sejarah keberadaan masyarakat multi-etnis yang terus tumbuh membuka peluang besar dalam bidang niaga, pertukaran sosial budaya, hingga pendidikan.
Berdasarkan tujuan dan tema yang diangkat, 18 museum tentunya ikut berperan aktif dalam Pameran Mawikara dengan menyumbangkan beberapa koleksinya. Mulai dari teropong sebagai salah satu koleksi museum Bahari hingga mesin sandi yang menjadi salah satu koleksi museum Sandi, turut menyusun cerita sesuai tema pameran Mawikara.
| Contoh Koleksi yang Dipamerkan. Foto : Joshephine Maretta |
Yogyakarta yang dikenal dengan keistimewaannya, menciptakan, membuat dan mengembangkan kain batik, yang juga terdapat dalam koleksi museum Kraton Yogyakarta. Dari kain batik, canting pembuatan batik, hingga sabun cuci finishing pembuatan batik juga terdapat dalam pameran yang bertemakan Mawakira.
Koleksi dari Museum TNI AD Dharma Wiratama juga ikut serta dalam meriahkan pameran Mawakira ini, yaitu seperti baju penyamaran, dan seragam pahlawan.
Selain itu, masih banyak peralatan dari 18 museum yang membantu meriahkan, dan pastinya membuat pengunjung menjadi lebih terpukau serta memahami terkait banyaknya koleksi dari budaya Yogyakarta pada abad ke-20.
“Saya dari Komunitas Malam Museum, secara sukarela memandu pameran ini,” ujar Fikri Maulana selaku pemandu pameran Mawikara, Rabu (24/11/2021). Hal ini juga dibenarkan oleh Anggi yang menjelaskan bahwa ada beberapa pihak yang ikut menyukseskan acara pameran Mawikara, salah satunya adalah komunitas malam museum.
Anggi yang menjelaskan target pengunjung yang mencapai 100 orang per harinya, serta kesuksesan acara Mawikara mengundang banyak perhatian massa.
Salah satunya Sherina yang merupakan mahasiswa Arkeolog Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. “Sangat terkesan karena ini pertama kalinya 18 museum bergabung dalam satu pameran,” ujar Sherina, salah satu pengunjung pameran, Rabu (24/11/2021).
Penulis: Candhik Ayu Paskahrani
0 Komentar