Sanggar Tari YPBSM, Bukti Tari Klasik Gaya Yogyakarta Masih Eksis Hingga Kini

Kegiatan latihan menari di sanggar tari YPBSM. Foto: Brigittha Pricilya

Yogyakarta, Inspirasi.com―Sanggar tari Yayasan Pamulangan Beksa Sasminta Mardawa (YPBSM) merupakan salah satu wadah budaya Tari Klasik Gaya Yogyakarta yang masih aktif melestarikan tari tradisional hingga kini.

Sanggar Tari YPBSM ini terletak di Jalan Dipokusuman No.309, Keparakan, Kec. Mergangsan, Kota Yogyakarta. Lokasinya berada dalam satu komplek dengan nDalem Pujokusuman. YPBSM saat ini dikelola oleh Ali Nur Setya Nugraha atau Alin sebagai ketua umum yayasan.


Mulai dari kalangan anak-anak usia 5 tahun hingga kalangan mahasiswa dan pekerja, sanggar tari ini dipenuhi oleh murid-murid atau para penari yang ingin ikut serta melestarikan budaya melalui tarian klasik gaya Yogyakarta.

 

Para murid atau penari biasa melakukan latihan di hari Senin hingga Jumat pukul 16:00-19:00 WIB. Hari Senin, Rabu, dan Jumat untuk kalangan dewasa, Selasa dan Kamis untuk kalangan anak-anak.

 

Latihan tari bisa ditiadakan bila bertabrakan waktu dengan acara dari pemilik Pendopo sanggar tari atau dari Keraton Yogyakarta. Dengan kata lain, YPBSM masih menyewa pendopo sanggar tari nDalem Pujokusuman dalam berbagai aktivitasnya.

 

nDalem Pujokusuman sendiri dikelola oleh Rama Titi, putra dari pemilik asli nDalem Pujokusuman, yaitu G.B.P.H. Pujokusumo yang merupakan adik dari Sultan Hamengkubuwana IX.

 

Kegiatan di sanggar tari ini sangat beragam. Mulai dari latihan menari, belajar make up, workshop kerjasama dengan travel agent untuk wisatawan, membatik, belajar karawitan, mengisi acara-acara kebudayaan, hingga pentas rutin.

 

Salah satu wujud penampilan dari para penari di YPBSM ini adalah dengan pentas atau ujian setiap 6 bulan sekali. Hal ini dilakukan bukan hanya untuk menguji para penari, namun juga menampilkan tari klasik di depan publik yang dapat disaksikan secara gratis oleh siapapun.

 

Selain itu, pementasan tersebut diadakan untuk menambah pengalaman atau jam terbang dari para penari untuk bisa merasakan tampil di muka umum dan menjadi penentu naik kelasnya mereka. Pentas ini juga sebagai ajang pengenalan budaya melalui tarian, busana, dan musik.

 

“Kalau pentas-pentas kerjasama dengan pihak luar, seperti Dinas Kebudayaan, Dinas Pariwisata, Taman Budaya, dan permintaan dari berbagai EO (Event Organizer) untuk mengisi acara, kami sudah sangat sering,” ujar Alin, selaku Ketua Umum YPBSM, Kamis (2/12/2021).

 

Pada tanggal 3 Desember 2021, YPBSM diundang untuk mengisi pentas di acara pameran yang diselenggarakan oleh Museum Sonobudoyo, Yogyakarta.

 

Jalinan kerjasama YPBSM sudah meluas hingga ke luar negeri, seperti Jepang, Amerika, Belanda, dan lainnya. Sanggar tari ini juga memiliki cabang sanggar tari di Jepang yang dipelopori dan dikelola oleh pasangan penari yang berasal dari Jepang dan Yogyakarta.

 

Sumber pendanaan untuk mengelola yayasan ini berasal dari kas bulanan di bidang pendidikan tari klasik. Selain itu, juga terdapat sumber dana yang berasal dari bidang pagelaran.

 

Bangkit lagi setelah terkena dampak pandemi Covid-19

Kegiatan latihan menari di sanggar tari YPBSM. Foto: Brigittha Pricilya

Ketika pandemi melanda, keadaan sanggar tari YPBSM ini sempat menurun. Tak hanya harus memberhentikan kegiatan latihan rutin, namun jumlah pendaftar menjadi semakin sedikit.


Menurunnya pendaftar calon murid diakibatkan oleh ketakutan orang-orang untuk berkumpul bersama di satu tempat. Para penari di sini juga berasal dari berbagai daerah, sehingga YPBSM menghentikan aktivitas belajar mengajar untuk menghindari penularan virus.

 

“Kita tetap mengikuti SK Gubernur. Selama belum diberi izin, ya kita tutup. Dulu sempat dibikin sesi, seminggu sekali latihan. Tapi malah Covid melonjak dan PPKM lagi, jadi kami off total,” ujar Alin.

 

Alin menambahkan, bahwa YPBSM memiliki kedekatan dengan Keraton Yogyakarta. YPBSM juga mengantongi izin dari Keraton untuk perizinan aktivitas di sanggar tari ketika PPKM berlangsung.

 

YPBSM juga meniadakan salah satu kegiatan rutin, yaitu ‘Selasa Legen’. Kegiatan ini merupakan latihan menari yang dibuka untuk umum dan sarasehan dengan para alumni sanggar tari, setiap hari Selasa Legi.

 

Setelah sempat berhenti mengadakan latihan dan berbagai kegiatan selama PPKM level 4, YPBSM mulai menjalani lagi rutinitas latihan menari.

 

Menanggapi PPKM level 3 di tanggal 24 Desember 2021 hingga 2 Januari 2022 mendatang, Alin menegaskan bahwa YPBSM tetap mengadakan latihan.

 

Semangat melestarikan tarian

“Para alumni sini biasanya melanjutkan bakatnya untuk menjadi tenaga seni di daerahnya masing-masing. Mereka nggak berhenti menari. Ini yang menjadi kebanggaan saya, pendidikan kami tidak sia-sia,” ujar Siti Sutiyah atau Ibu Sas, selaku Abdi Dalem dan guru tari dari Keraton Yogyakarta, Kamis (2/12/2021).

 

Ibu Sas memiliki nama atau gelar anugerah dari Keraton, yaitu Kanjeng Raden Tumenggung Dwijo Sasmintamurti atau Siti Sutiyah Sasmintadipura. Ibu Sas merupakan istri dari mendiang K.R.T Sasminta Mardawa atau Rama Sas, empunya tari klasik Yogyakarta.

Ibu Sas. Foto: Brigittha Pricilya

Ibu Sas masih aktif melatih di sanggar tari meskipun harus duduk di kursi roda karena sakit. Beliau sangat antusias dalam upaya melestarikan tari klasik gaya Yogyakarta kepada murid-muridnya.

 

Dasar tarian di yayasan ini adalah tari klasik gaya Yogyakarta yang dibagi menjadi beberapa kelas tari. Tarian tersebut seperti Tari Nawung Sekar, Golek Sulun Dayung, Sari Kusuma, Golek Ayun-ayun, Baris Rampak, Jaranan, Golek Kenyo Tinembe, dan lainnya.

 

Para penari dibagi menjadi sekitar 9 kelas untuk tingkatan tariannya. Penari laki-laki dan perempuan pun dibedakan jenis tarinya, karena dasar tari klasik yang memang berbeda. Namun, dalam kepentingan khusus, seperti penelitian dari mahasiswa perguruan tinggi seni, bisa terjadi tarian yang ‘transgender’.

 

Tidak hanya dari Yogyakarta, YPBSM memiliki murid yang beragam asalnya. “Dulu murid-murid saya juga banyak dari luar negeri. Walaupun nggak bisa bahasanya, saya nekad aja tetap melatih,” ujar Ibu Sas.

 

Nek dukane ki mik sedikit, Mbak. Saya tidak merasa kerepotan, karena mengajar tari sudah menjadi pilihan dan bagian hidup saya. Muridnya bisa melakukan yang saya ajari, saya sangat senang,” tambah Ibu Sas.

 

Warisan budaya turun-temurun

Bermula dari antusiasme yang besar dari masyarakat Yogyakarta untuk belajar tari klasik, didirikanlah sanggar tari YPBSM yang merupakan gabungan dari sanggar tari Mardawa Budaya (1976) dan sanggar tari Pamulangan Beksa Ngayogyakarta.

 

Ketika kedua sanggar digabung pada tahun 1992, yayasan ini bernama ‘Yayasan Pamulangan Beksa Mardawa Budaya’. Pada tahun 1998, nama yayasan berubah menjadi ‘Yayasan Pamulangan Beksa Sasminta Mardawa’.

 

YPBSM resmi berdiri pada tahun 1998 yang didirikan oleh Alm. K.R.T. Sasmintadipura atau yang kerap disapa Rama Sas. Beliau merupakan guru dan empu tari di Keraton Yogyakarta.

 

Alm. Rama Sas memiliki peran besar dalam pelestarian tari klasik gaya Yogyakarta dengan senantiasa mengajar tari kepada orang banyak dengan tetap mempertahankan norma tarian klasik tersebut.

 

Jasa-jasa dan karya Alm. Rama Sas kemudian diabadikan dengan menaruh nama beliau ke dalam nama sanggar tari YPBSM. Keinginan Alm. Rama Sas untuk melestarikan tari klasik kemudian diteruskan oleh YPBSM ini.

Alin selaku ketua umum YPBSM. Foto: Brigittha Pricilya


“Dulu Ibu itu (menunjuk ke Ibu Sas) yang memimpin sanggar ini, sekarang kan saya,” ujar Alin.


Setelah Alm. Rama Sas meninggal, YPBSM dikelola oleh istrinya, yaitu Ibu Sas yang kini berusia 75 tahun. Pada tahun 2019, YPBSM diturunkan kepada anaknya, yaitu Ali Nur Setya Nugraha hingga kini.




Penulis: Blanka Rahel Maretha Joanne

Posting Komentar

0 Komentar