Susan Rodgers: Beberapa Songket Sudah Tak Tradisional Lagi

Susan Rodgers menunjukkan kain songket pada saat konferensi. Foto: tangkapan layar pribadi 

Jakarta, Inspirasi.com―Kemendikbud Ristek kembali menyelenggarakan Pekan Kebudayaan Nasional di tahun 2021 secara daring. Salah satu rangkaian acaranya adalah Konferensi Wawasan Songket Nusantara.


Konferensi Wawasan Songket Nusantara ini diselenggarakan pada Rabu, 24 November 2021 secara daring melalui video conference Zoom. Konferensi ini mengangkat sejarah kain songket, kebudayaan, hingga perkembangan songket saat ini. 


Konferensi yang berlangsung selama 2 jam 47 menit ini dihadiri oleh narasumber yang terdiri dari Puan Puti Reno Sativa Sutan Aswar (Peneliti dan Praktisi Songket), Lalu Hilman (Ketua Perkumpulan Pecinta Songket Warna Alam, Pesona Alam, NTB), Susan Rodgers (Antropolog), serta dimoderatori oleh Miranda Goeltom (Guru Besar FEUI). 


Sebagai seorang Antropolog, Susan Rodgers menyetujui bahwa songket merupakan kesenian luar biasa yang dimiliki Indonesia. “Songket merupakan satu kesenian yang luar biasa di Indonesia, seorang penenun duduk di alat perkakas dan dia memasukkan benang yang berwarna perak atau emas dan membuat berbagai macam motif,” ungkap Susan dalam Konferensi Wawasan Songket Nusantara secara daring, Rabu (24/11/2021). 


Konferensi wawasan songket nusantara secara daring. Foto: Tangkapan layar pribadi 

Susan juga memiliki perhatian terhadap beberapa songket saat ini yang tak tradisional lagi.

“Beberapa songket kini sudah menjadi tidak tradisional lagi, misal Ulos Sipirok, ulos ini banyak meminjam ide dari Minangkabau. Warna ulos ini seperti hitam dan selalu pakai benang emas,” ujar Susan. 


“Kemudian, motif di songket mulai berubah. Saat ini, kita bisa membeli songket dengan huruf Arab, itu hal yang baru dan benang juga sudah mulai berubah polyester silk bend. itu menjadi tidak bagus lagi setelah dicuci,” ujar Susan. 


Susan menegaskan bahwa selama motif dan teknik masih berciri khas songket, itu tetap dinamakan songket. “Sesuatu yang masih menggunakan ciri khas songket itu tetap songket, seperti motif dan teknik songket,” tutur Susan. 


Sativa Sutan Aswar sebagai peneliti dan praktisi songket, membenarkan bahwa memang ada beberapa perubahan yang dilakukannya pada kain songket. Namun, hal tersebut dilatarbelakangi dengan beberapa alasan. 


“Saya memang merubah bahan baku songket, mengurangi penggunaan warna metal dengan benang biasa. Di situlah letak perubahan dari sebuah songket.”, ujar Sativa dalam Konferensi Wawasan Songket Nusantara secara daring, Rabu (24/11/2021). 


“Kalau menggunakan benang emas, biasanya untuk acara tertentu, kalau dengan benang biasa kita bisa menggunakan songket sehari-hari dan nampak ringan. Tentunya kita tetap berpegang pada karakter dari masing-masing provinsi untuk tetap bisa mempertahan ciri dan jiwanya,” tambah Sativa.  


Motif  juga merupakan bagian terpenting dalam songket, dikarenakan menggambarkan cara hidup (way of life) masyarakat Minang. “Motif dalam songket tetap harus dijunjung tinggi dan menjadi sangat penting, karena merupakan simbol-simbol way of life masyarakat setempat,” ujar Sativa. 


Sativa juga memberi contoh beberapa motif, seperti angso duo dan kaluak paku. “Misalnya,  orang Jambi, mereka menggunakan motif angso duo, begitu juga di Sumatera Barat menggunakan kaluak paku yang diambil dari lingkungan sehari-hari mereka,” ucap Sativa. 


“Kaluak paku diambil dari pohon pakis di sekitar mereka dan diambil dari rumah-rumah adat. Semua ini falsafah hidup orang Minang dan itu menggambarkan way of life. Kaluak paku ini selalu ada terutama di upacara adat,” ungkap Sativa.


Sativa sedang menjelaskan motif kaluak paku. Foto: tangkapan layar pribadi 

Selain berbicara mengenai songket di Sumatera, konferensi ini juga berbagi wawasan mengenai songket di Pulau Lombok. Tak hanya di Sumatera, para warga Lombok juga turut melestarikan songket. 


“Kami menghidupkan kembali beberapa metode pewarnaan alam yang hampir punah, tradisi mewarnai benang biru, pewarnaan indigo yang masih sangat tradisional,” ungkap Lalu Hilman selaku Ketua Perkumpulan Pecinta Songket Warna Alam, Pesona Alam, NTB dalam Konferensi Wawasan Songket Nusantara secara daring, Rabu (24/11/2021). 


Lalu Hilman juga mengatakan bahwa regenerasi pergerakan menenun di Lombok berjalan sangat baik, hingga saat ini di Lombok sendiri memiliki pengusaha-pengusaha songket yang rata-rata digeluti oleh generasi milenial dan sukses di era pandemi saat ini. 


“Kami juga menghidupkan gerakan menanam kapas di desa di Pulau Lombok dan membagikan benih kapas pada penenun songket. Tak hanya itu, kami juga melakukan regenerasi pemintal benang yang hampir punah di wilayah Lombok,” ujar Lalu Hilman. 



Penulis: Brigitta Raras Amaranggana Hutomo

Posting Komentar

0 Komentar